Niat mau ngelanjutin (sekaligus abisin biar ga berkepanjangan hehe) kisah di belakang bertautnya hati seorang putri dengan seekor kodok bangkok pangeran ternyata baru bisa dilanjutkan sekarang. Waktu long weekend kemarin ga sempet, ehh kemaren malahan sakit..hiks hiks.. alhasil hari ini ga masuk kantor. Setelah seharian badan lemas dan tidur melulu, akhirnya aku menyingsingkan lengan bajuku dan…. mengambil laptop!…hahaha… lumayan gaya yah… hehehe…
Ingin diselesaikan skrg biar bisa lanjut critaiin yg baru karena si kodok bangkok akan mendarat di Jakarta LUSA stlh melakukan loncatan yg ruarrr biasa dari Melbourne dengan kedua belah kaki belakanganya yg super kuat hihihi…
——
Stlh berbagai macam pendekatan lewat udara dijalankan olehnya, akhirnya tibalah saat dimana level yg paling tinggi akan segera dilaksanakan! Alias telpon hehehe (telpon menurutku sih level paling tinggi dlm “pendekatan udara”, selain yg lain spt sms, email, chatting, kirim2an kartu, barang, hmm… apalagi yah yg lewat udara? jangan sebut bom nuklir yah hehe). Pas nelpon kan lebih banyak yg bisa dibicarakan, lebih bisa tau reaksi langsung dari masing2 waktu sdg menjawab pertanyaan2 tertentu atau wkt sdg membahas sesuatu dan butuh tau tanggapan dia bagaimana, tanpa harus dibatasi oleh emoticon2.
Ternyata pula, suaranya si kodok bangkok itu loh. Berat, berwibawa, volumenya pas, cool, macho, ‘pria banget’ deh!
Cukup tidak disangka juga sih suaranya ternyata bagus hehe… Memang di Melbourne dia juga join choir dan singer di gereja (sudah 3 tahun sblm aku pulang ke Indo aku juga join pelayanan choir & singer, tp dia sendiri br join setelah aku pulang ke Indo waktu dibuka recruitment buat anggota baru, bayangkan betapa nasib memang mengharuskan kami mengenal satu sama lain lewat udara).
Kecocokan demi kecocokan, kesenangan dan kenyamanan pada saat bercerita segala hal bersama dia, selera humornya yg tinggi, perhatiannya akan hal-hal yg sederhana, kedewasaannya, semuanya itu membuat hatiku dgn cepat menangkap sinyal ‘aku suka sama dia’ … Sampai pd saat akhirnya dia menyatakan perasaannya padaku, bahwa dia menganggap aku ini lebih dari teman, terus terang saja ya aku senang.
Tapi, saking dari dulu udah sering nemuiin pria yg aneh-aneh, ga segampang itu aku langsung mengiyakan buat lanjut ke hubungan yg lebih dalam sama dia… Bagaimana soal masa depan? Bagaimana soal masa lalunya yg secara gamblang dia pernah jelaskan padaku semuanya di satu kesempatan? Bagaimana soal masa sekarang ini pd waktu kami melakukan pdkt, kalau tdk berjalan dgn baik dan pada akhirnya aku harus menolaknya, dapatkah kami akan terus berteman?
Temanku bahkan ada yg mengatakan “hati-hati dengan kucing di dalam karung”. Memang kalau dipikir secara logika, meski dulu aku dan dia satu gereja, tapi tidak pernah satu kalipun aku mengobrol dengannya. Bahkan sejujurnya, mengingat pernah melihat dia pun tidak ada di memori otakku ini sampai sekarang. Spt yg pernah kuceritakan, aku cuma sering mendengar namanya “kodok bangkok” disebut-sebut, bahkan dulu sudah ada yg pernah mengusulkan aku dengannya tp aku tidak pernah benar-benar tau yg mana orgnya.
Aku gamau mengiyakan lagu “Tak Ada Logika”-nya Agmon. Wanita memang sering dirugikan krn terlalu mengandalkan perasaannya terutama yg berhubungan dengan masalah romansa dengan pria. Aku sendiri dulu pernah mengalaminya (pernah atau sering ya?). Karena itu aku mengajarkan diriku sendiri utk tidak termakan oleh perasaan. Logika juga dibutuhkan. Jangan mau membina hubungan dengan pria hanya karena “terlanjur sayang”. Lihat juga apakah visinya sama, apakah aku bisa melihat masa depan aku bersama dengan dia.
Masalah temanku yg mengompori ini, juga bbrp lainnya yg mengingatkan aku tentang masa lalunya (biar pembaca ga penasaran, aku kasih tau aja intinya, yaitu dia pernah ada sejarah playboy; bukan dlm arti pernah menjadi cover majalah Playboy-red). Ditambah dengan keanehan dalam urat nadi diriku yaitu takut dengan yg namanya komitmen (pdhl seharusnya ini kan seringnya dialami oleh pria yah..?!). Jadilah akhirnya aku memutuskan: aku menolaknya.
Aku meminta maaf. Aku hanya bisa menjadi teman dengannya. Aku merasa itu adalah keputusan yg terbaik. Aku menghela nafas dan berpikir, ternyata ini pun hanyalah selingan. Masih iklan. Entah sampai kapan film utama itu akan diputar dimana sang aktor muncul sebagai bintang utamanya.
Namun…. kok ada perasaan tidak merelakan setelahnya…? Kenapa nih? Bukannya si kodok bangkok ini sama dengan kodok-kodok sebelumnya, yg kalau tdk jadi disantap ya sudah, tunggu hidangan berikutnya lagi, pasti akan masih ada kodok lain yg akan datang, yg lebih bangkok darinya (kok kedengerennya aku jd haus sama daging kodok yah hahaha).
Tapi hatiku merasakan ada yg beda dengan yg ini. Sejujurnya hatiku mengatakan aku sedang tidak mendapatkan kucing di dlm karung. Penjelasannya adalah, karena ia adalah seekor kodok, bukan kucing, hati kecilku mengatakan bahwa dia telah bersikap jujur di hadapanku. Semua yg baik yg aku lihat dr dia adalah memang apa adanya, tdk dibuat-buat. Kemudian aku pun menyadari, setelah dia memberikan rencana masa depan yg pasti (salah satunya akan menetap dimana kami nanti, antara Melbourne atau Jakarta), ternyata tembok terbesar yg harus aku hadapi itu bukan di diri dia, tapi di diriku, yakni ketakutanku pada komitmen.
Pelan-pelan aku mulai membuka hatiku lagi. Begitu dia melihat aku masih memberikan kesempatan, dia pun maju lagi. Selama sebulan ke depan aku makin yakin kalau dia adalah orangnya, he is the one! Masalah ketakutanku pd komitmen kubicarakan dengannya, dia mengerti, dan aku sendiri juga mendapatkan pencerahan. Singkat cerita, ketika ia kembali dengan pertanyaan yg sama, aku pun siap utk menjawabnya. Kujawab dengan jawaban yg malu-maluin namun yakin.
Ya, aku mau.
Aku mau membuka pagar hatiku supaya kamu bisa masuk ke dalamnya. Bukan cuma singgah di depannya, tapi masuk ke dalam relung hatiku makin dalam. Seiring dengan waktu berjalan, nama dan dirimu akan terukir disana. Makin lama makin jelas pahatannya. Sampai itu tidak bisa dihilangkan lagi daripadanya…….
—–
Sekian dulu ceritanya yah, si kodok bangkoknya udah menang tuh hehe… Maap kalau mungkin terkesan buru-buru sudahinnya krn banyak yg hrs dipotong oleh badan sensor biar ga kepanjangan